KULIAH IMAN 2

Just another WordPress.com weblog

Kekuatan Bukan Miliknya (Yesus) Sendiri?

Kekuatan Bukan Miliknya (Yesus) Sendiri:

(a) “Yesus mendekati mereka dan berkata, ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi’?” (Injil – Matius 28: 18).

 CONTOH JAWAPAN:

Matius 28:18

“Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surge dan di bumi.”

Ayat ini bukanlah pengakuan Yesus bahawa Dia bukan Tuhan. Nampaknya ada keraguraguan di antara murid-murid, tapi barangkali mereka hanya ragu-ragu sampai “Yesus mendekati mereka.” Sekarang Yesus telah menerima “kuasa” universal sebagai pemberian Bapa-Nya, bukan sebagai sesuatu yang diperolehi kerana menyembah Iblis. Mesias telah menerima warisan-Nya, walaupun warisan-Nya belum mencapai kesempurnaan yang sepenuhnya kerana Ia belum datang untuk kedua kalinya.

Matius 24:30-31

“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.”

Kuasa, kekuasaan atau otoritas berasal dari istilah Yunani ‘exousia‘ bererti kuasa yang adil, sungguh, dan tak terhalangi bartindak, atau memiliki, mengawal, memakai atau menguasai sesuatu atau seseorang. Kata ‘dunamis’ berarti kekuatan fisik belaka, tapi ‘exousia‘ bererti kuasa yang bagaimanapun juga adalah sah. ‘Exousia‘ dapat menekankan keabsahan otoritas/kuasa yang dipegang atau nyatanya kekuasaan yang sah. ‘Exousia‘ kadang-kadang mengandungi erti duniawi yang umum, tapi ertinya biasanya bersifat falsafah Ketuhanan.

Alkitab yakin bahawa satu-satunya otoriti dan kekuasaan yang sesungguhnya adalah milik Allah pencipta. Otoriti yang dimiliki oleh manusia adalah pemberian Allah, dan kepada Dia, manusia harus mempertanggungjawabkan penggunaan otoriti itu. Kerana semua otoriti pada akhirnya terpulang kepada Tuhan, maka dalam segala bidang kehidupan, tunduk kepada otoriti yang sah adalah kewajiban religious, bahagian dari pelayanan terhadap Tuhan. Otoriti Allah adalah unsur dari sifat-Nya yang tak dapat berubah, universal/meluas dan kekal atas dunia ciptaan-Nya. Otoriti sebagai Raja Universal ini berbeza dari (walaupun asasi bagi) hubungan-Nya dengan Israel berdasarkan perjanjian, dengan mana Israel menjadi umat dan kerajaan-Nya, dan mewarisi berkat-Nya. Otoriti-Nya yang agung atas menusia mencakupi hak-Nya dan kuasa-Nya yang tak dapat berubah untuk mengatur manusia menurut kehendak-Nya, ditambah dengan tuntutan-Nya yang tak dapat disangkal agar manusia tunduk kepada-Nya dan hidup untuk kemuliaan-Nya. Di seluruh Alkitab, realiti kedaulatan Allah dibuktikan oleh fakta, bahawa semua yang mengabaikan atau mencemuhkan tuntutan-Nya mendapat hukuman. Titah Hakim ilahi adalah “kata terakhir” dan dengan demikian otoriti-Nya sahih.

Pada zaman Perjanjian Lama Allah memberlakukan/mewasiatkan otoritas-Nya dengan perantaraan para nabi, imam dan raja. Masing-masing mengumumkan amanat-Nya, mengajarkan hukum Taurat, dan memerintah sesuai hukum tersebut. Mereka dihormati sebagai utusan Tuhan, yang telah mendapat kuasa dari Dia. Kitab Taurat yang tertulis diakui diberikan oleh Allah dan penuh otoritas, baik sebagai ajaran (‘tora’) untuk mengajar orang Israel tentang kehendak Allah maupun sebagai kitab undang-undang yang menjadi dasar pemerintahan dan pengadilan-Nya.

Otoritas Yesus juga merupakan unsur kerajaan. Itu bersifat pribadi maupun resmi, kerana Yesus adalah Anak Allah dan Anak Manusia, Mesias. Sebagai Manusia dan Mesias, otoriti-Nya riil kerana diserahkan kepada-Nya oleh Allah yang atas perintah-Nya Ia lakukan pekerjaan-Nya. Sebagai Anak Allah otoriti-Nya jelas kerana Ia sendiri adalah Allah. Otoriti untuk menghakimi diberikan kepada-Nya, supaya Ia dihormati sebagai Anak Allah (sebab penghakiman adalah pekerjaan Allah), dan juga kerana Ia Anak Manusia (sebab penghakiman adalah pekerjaan Mesias). Pendeknya, otoriti Kristus adalah kekuasaan Mesias yang ilahi: manusia-Allah, yang melakukan kehendak Bapa-Nya dalam kedudukan-Nya yang lengkap sebagai pelayan manusia, yang dalam diri-Nya padu jabatan nabi, imam dan raja, dan sebagai Anak Allah, turut menciptakan segala sesuatu dan berperanan dalam seluruh pekerjaan Bapa.

Otoriti Yesus yang melampaui otoriti manusiawi diungkapkan dalam ajaran-Nya mengusir roh-roh jahat; dalam penguasaan-Nya atas angin ribut; pada penyataan-Nya mengampuni dosa (yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, seperti diakui oleh orang yang berdiri dekat), dan bila ditantang, Ia membenarkan pernyataan-Nya. Setelah kebangkitan Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala ‘exousia‘ di surga dan dibumi”, iaitu kekuasaan Mesianik meliputi alam semesta. Kekuasaan itu akan Dia gunakan untuk membawa orang yang terpilih ke dalam kerajaan keselamatan-Nya. Perjanjian Baru mengalu-alukan Yesus yang dimuliakan sebagai Tuhan dan Kristus, Penguasa ilahi atas segala-galanya, Raja dan Juruselamat umat-Nya. Inti Injil adalah perintah untuk menerima penaksiran ini tentang kuasa Yesus.

 

 

November 21, 2008 - Posted by | PORTAL KRISTOLOGI |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: